Tradisi nenek moyang masyarakat adalah penganut ajaran animisme dan dinamisme. Kemudian berlanjut kepada agama paganisme sebelum datangnya ajaran Islam. Jauhnya masyarakat dari sumber ilmu Islam yang benar menjadikan mereka sulit membedakan mana tradisi yang sesuai dengan syariat Islam dan mana tradisi yang dilarang dan bahkan bertentangan dengan syariat. Ketidaktahuan tersebut menjadikan masyarakat mudah digiring oleh setan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang bahkan sampai kepada kesyirikan yang bisa mengeluarkan dari agama Islam.

Lemahnya pengetahuan ke-Islaman masyarakat juga berdampak kepada lemahnya perlindungan diri mereka dari musuh utama yaitu setan. Musuh dapat dengan mudah menyerang selama umat tidak membentengi diri dengan baik. Banyak masyarakat yang tanpa sadar telah menjadi korban kejahatannya musuhnya. Bahkan yang lebih parah, masih banyak masyarakat yang justru meminta perlindungan kepada musuh yang justru akan menghancurkan mereka.

Banyaknya keluhan dan konsultasi dari masyarakat yang menjadi korban musuh ini menjadikan sebagian asatidz tergerak untuk membantu melalui terapi ruqyah syar’iyyah. Semakin hari masyarakat yang membutuhkan bantuan ruqyah semakin banyak. Tenaga asatidz yang mampu menangani masih sangat terbatas. Dauroh dan kajian ruqyah yang diharapkan bisa menjadi pengkaderan para peruqyah juga belum mampu memebuhi kebutuhan masyarakat yang begitu besar. Oleh karenanya, MAA turut mengambil kontribusi dalam mengatasi masalah ini dengan membuka Program Diploma Tauhid dan Ruqyah Syar’iyyah.